Siang itu suasana pelan-pelan merunduk hangat di The Radiant Center, Ciputat Tangerang Selatan. Pertemuan lebih dari 150 orang menjelma menjadi lorong waktu tempat ratusan kenangan bertemu.
Aroma Melayu yang akrab, dari pantun hingga canda khas kampus mengalir tipis di antara deretan kursi. Pertemuan hari itu bukan sekadar untuk bersalaman selepas Lebaran. Mereka membawa cerita yang belum selesai sejak meninggalkan Universitas Riau puluhan tahun lalu bagi sebagian, atau baru kemarin sore bagi yang lain.
Halal bi halal IKA UNRI Jabodetabek yang digelar Ahad 26 April 2026 itu, terasa seperti perayaan yang lebih dalam dari sekadar seremoni. Ia adalah pertemuan dua hal yang jarang akur, antara hiruk-pikuk kota besar dan kehangatan kampung halaman.
Sejak menjelang siang, satu per satu alumni berdatangan. Ada yang datang dengan jas rapi, ada pula yang cukup dengan kemeja santai. Tetapi begitu bertemu, formalitas itu luruh. Yang tersisa hanya sapaan sederhana, “Kamu angkatan berapa?”
Di sudut ruangan, percakapan kecil terdengar seperti fragmen masa lalu yang terputar ulang. Tentang dosen galak yang kini dikenang dengan tawa. Tentang organisasi kampus yang dulu terasa seperti dunia. Tentang mimpi yang dulu dibangun di tepian Sungai Siak dan kini diuji di Jakarta.
Alumni Fakultas Ekonomi Angkatan 1986, Rahmat Hidayat berdiri di antara kerumunan. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya menyimpan energi yang sama seperti puluhan tahun lalu.
Di dekatnya, generasi muda berdiri. Ada pula lulusan yang belum genap lima tahun meninggalkan kampus. Mereka berbagi ruang yang sama, tapi membawa zaman yang berbeda. Jarak puluhan tahun terasa menyempit hanya dalam satu jabat tangan.
Namun, halal bi halal ini bukan hanya tentang nostalgia.
![]() |
| Pelantikan pengurus IKA Unri Jabodetabek periode 2026-2030 |
Di tengah kehangatan itu, panggung utama menjadi saksi sebuah babak baru. Agustaviano Sofjan resmi dilantik sebagai ketua baru. Ia selanjutnya akan berkolaborasi dengan 28 alumni lainnya yang duduk dalam susunan kepengurusan IKA Unri Jabodetabek periode 2026-2030.
Momentum ini memberi arah bahwa pertemuan ini bukan sekadar pulang, tapi juga mulai bergerak. Dalam pidatonya, alumni Fisip Unri Jurusan Hubungan Internasional Angkatan 1989 itu menyebut organisasi alumni sebagai “rumah”. Sebuah kata yang sederhana, tapi mengandung ambisi besar. Ia menggambarkan bahwa jaringan alumni bukan hanya tempat bernostalgia, melainkan ruang kolaborasi nyata.
"Halal bi halal ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga momentum memperkuat jejaring dan meningkatkan kontribusi nyata bagi masyarakat serta mahasiswa UNRI,” kata Agustaviano.
Di barisan depan, Rektor Universitas Riau Sri Indarti mengamati dengan tenang. Baginya, alumni bukan sekadar kenangan kampus, melainkan wajah universitas di luar pagar akademik.
Menurut Sri, dukungan para alumni bisa menjadi jembatan bagi mahasiswa menghadapi dunia kerja. Di titik ini, suasana berubah pelan. Dari hangat menjadi penuh harap. Lalu keseruan justru muncul di sela-sela formalitas.
Tawa pecah saat perwakilan angkatan disebut. Agustaviano memenggal dalam hitungan maju 10 tahun. Angkatan 76 disebut, lalu 86, angkatan 96 hingga kelipatan termuda angkatan 2016. Senyum dan tawa pun pecah. Universitas Riau yang berdiri puluhan tahun ternyata telah melahirkan alumni yang tersebar dari generasi ke generasi.
Di satu momen, Wan Muhammad Hasyim atau biasa dikenal Suhu Wan berbagi cerita. Ia mengungkap bagaimana perjalanan bisnisnya bermula dari kampus Unri hingga kini menjadi ritel ternama di Jakarta.
Tak jauh dari sana, percakapan tentang bisnis, karier, hingga peluang magang mengalir tanpa skenario. Inilah bagian yang tak tertulis dalam rundown acara, tapi justru paling hidup.
Ada pula satu momen istimewa selama acara. Sebagai ikhtiar untuk menjalin kolaborasi, diperkenalkan pula website baru www.IkaUnri-Jabodetabek.org. Ada pula media sosial instagram @ika_unrijabodetabek yang menjadi ruang untuk alumni mendapatkan informasi tentang kegiatan terkini organisasi.
Kehangatan terus mengalir lewat canda dan tawa yang mengalir selama acara. Saat pemandu acara menguji pengetahuan para alumni tentang kampusnya, keriuhan pecah. Yang muda-muda di baris belakang berebut maju ke depan agar tak kalah cepat dalam menjawab soal.
Di sesi lain, alumni Unri Muchlis Ishaq membawakan beberapa permainan yang membuat ruang menjadi gegap gempita. Berlomba mengikuti instruksi dalam aneka permainan. Yang menang makin tersenyum lantaran membawa pulang souvenir yang telah disiapkan sebagai cenderamata.
Menjelang sore setelah kegiatan bergulir dari pukul sebelas siang hingga pukul tiga, ketika acara mulai mereda, satu per satu orang bersiap pulang. Namun yang dibawa pulang bukan hanya foto bersama atau kontak baru. Ada sesuatu yang lebih sulit diukur, perasaan bahwa mereka tidak sendirian di kota sebesar Jakarta.
Bahwa di tengah kemacetan, gedung tinggi, dan ritme yang tak pernah berhenti, ada “rumah lain” yang bisa disinggahi.
Tema yang diusung hari itu Stronger Together tidak berhenti sebagai slogan. Ia terasa nyata, setidaknya untuk beberapa jam di sebuah gedung di Ciputat.
Seperti kebanyakan pertemuan yang hangat, halal bi halal itu meninggalkan satu hal yang sama, keinginan untuk bertemu lagi, sebelum waktu kembali menjauhkan. Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah pertemuan berkesan bukanlah acaranya, melainkan orang-orang yang saling mengingat bahwa mereka pernah berjalan di jalan yang sama.
Dan semua kenangan yang terangkai di hari itu ada dokumentasinya. Klik link berikut dan temukan canda tawa di dalamnya untuk mendapatkan filenya.
%20181.jpg)
%20185.jpg)

%20336.jpg)
0 Comments