Skip to main content

Sticky Advertisement

Suhu Wan dan Filosofi Bangkit: Kisah Alumni UNRI Menantang Logika Bisnis Ritel

 


Langkah hidup Wan Muhammad Hasyim atau biasa dikenal Suhu Wan tak pernah benar-benar lurus. Ia mengalami jatuh bangun sebelum sukses menjadi salah satu penguasa bisnis ritel di tanah Jawa lewat usahanya Idolmart.

Pria kelahiran Riau itu berani mengambil keputusan besar yang kelak mengubah hidupnya. Dia memilih mengemas barang dan merantau ke Jakarta. Kota metropolitan yang jaraknya sejauh 1.200an kilometer dari kampung halaman.

Semua benar-benar dibangun dari nol. Beberapa kali kegagalan membuat dia berhenti. Namun semangat dan keyakinan membuatnya bangkit. Simak kisah perjalanan karir alumnus Universitas Riau (UNRI) sebagai penyemangat untuk bangkit. 

Tekad Kuat Merantau Jadi Batu Lonjakan Karir Suhu Wan

Perjalanan pria yang akrab disapa Suhu Wan itu dimulai pada 1990, ketika dia mulai berkuliah sebagai mahasiswa jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Riau (UNRI). Dia bercerita, karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuatnya tak sekadar belajar di kampus seperti mayoritas mahasiswa lainnya. 

Ia memilih untuk mengajar di lembaga kursus akuntansi bernama Bina Profesi di Pekanbaru demi bertahan. Lima tahun berselang, Suhu Wan lulus. Setahun kemudian ia memilih untuk merantau ke Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Bekasi sebagai Manager Accounting.

Perkenalan pria kelahiran Juli 1969 ini datang dari orang terdekat. Dia bercerita, istrinya berasal dari keluarga Minang yang sebagian besar berprofesi sebagai pedagang di Jabodetabek. Dari kegiatan sering nongkrong bersama para pebisnis itulah Suhu Wan kemudian memutuskan untuk terjun ke bisnis ritel pada 2000. 

“Karena sering berkumpul dan bergaul dengan keluarga istri, akhirnya saya tertarik bisnis ritel,” ujar Wan.

Karir bisnisnya dimulai dengan membuka kios kecil fotokopi dan alat tulis kantor di Cikarang. Pekerjaan itu dilakukan sebagai bentuk usaha sampingan yang dijalani sambil tetap bekerja.

Dua tahun kemudian, jumlah tokonya sudah bertambah menjadi tiga. Dia pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan tetapnya dan fokus pada bisnis pribadinya. Semula, seputusan itu sempat ditentang istri dan keluarga. 

Hal yang dikhawatirkan istrinya adalah gaji dari pekerjaan tetap dianggap lebih aman dibanding bisnis yang penuh ketidakpastian. Namun Suhu Wan melihat peluang berbeda. Setelah tekadnya kuat menjadi seorang pebisnis, penulis buku bertajuk Jatuh Bangun itu kemudian melakukan ekspansi besar-besaran. 

Da mengembangkan jaringan toko mainan dengan merek Toysmart hingga 36 cabang. Cabang tersebut bahkan dibuka sampai ke Jawa timur. Jalan tak selalu mulus, jelang akhir 2005, bisnisnya roboh. Suhu Wan bangkrut. 

“Saya bangkrut buka ke titik nol, melainkan ke minus, alias masih tersisa utang milyaran,” kata dia.

Karena rugi dalam, dia sempat mempertimbangkan untuk kembali menjadi karyawan. Namun beban utang yang tinggin itu membuat opsi itu terasa jauh. Ia akhirnya memutuskan untuk bangkit kembali menjadi pebisnis.

Cerita Semangat Suhu Wan untuk Bangkit serta Motivasi Bagi Mahasiswa UNRI

Dua tahun pasca kerugian yang dialaminya, Suhu Wan memulai lagi dari awal dengan mendirikan minimarket non sembako yang ia beri nama Idolmart. Pelan-pelan, bisnis itu tumbuh. Hingga kini, jaringan Idolmart telah berkembang menjadi lebih dari 140 toko yang tersebar di Pulau Jawa. Ia juga mengembangkan merek lain seperti Idolaku dan Babydol.

Suhu Wan bercerita, kebangkrutan justru memberikan pengalaman yang sangat berharga untuk dirinya. Ia menemukan filosofi bahwa tidak ada yang namanya bangkrut. Yang ada hanya belajar dengan cara yang lebih baik lagi. 

“Gagal itu kalau kita berhenti. Kalau kita tidak berhenti dan mencoba lagi, maka kita tidak akan pernah gagal,” ujarnya.

Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni UNRI itu menceritakan betapa pendidikan mampu mendorong karirnya menjadi lebih baik. Dia mengakui banyak pelajaran penting yang didapatkannya di kursi universitas. 

Dengan jatuh bangun perjalanan bisnisnya, Suhu Wan menyatakan tantangan terbesar dalam bisnis datang dari diri sendiri, bagaimana diri mau terus belajar dn bertumbuh. Menurutnya, keberhasilan atau ketidakberhasilan bisnis adalah cerminan dari ketidakmampuan pribadi individu.

Dengan latar belakang pendidikan akuntansi memberinya nilai plus dalam memahami laporan keuangan dan mengambil keputusan berbasis data. Lebih dari itu, dunia kampus membentuk cara berpikir terstruktur dalam membangun bisnis.

Meski sudah sukses, Suhu Wan tetap memberikan semangat untuk para generasi muda di bawahnya, khususnya mahasiswa UNRI. Dia juga pernah menjadi pembicara seminar workshop dan pelatihan bisnis di 100 kota lebih se-Indonesia.

Dia berpesan kepada mahasiswa dan alumni UNRI, bahwa dapat menentukan tujuan hidup. Ketika merantau ke Jakarta, ia hanya ingin membantu keluarga. Namun setelah menjadi karyawan, ia merasa kontribusinya terbatas. Bisnis memberinya ruang lebih luas bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk banyak orang.

Dia melihat usaha yang dibangun dengan tujuan memberi manfaat bagi masyarakat akan membuat perusahaan mencapai tujuannya, salah satunya pertumbuhan laba perusahaan. 


Biodata

Nama : Wan Muhammad Hasyim,SE. Ak (Suhu Wan)

Tempat/tgl lahir: Riau, 3 Juli 1969

Alamat: Sentul City Bogor 


Pendidikan: 

Lulus tahun 1995 S1 Fakultas Ekonomi Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru, Jurusan Akuntansi 


Pekerjaan: 

1. 1995-1996 Chief Accounting PT Ramindo Utama, Pekanbaru

2. 1996-2002 Chief Accounting PT Intanco, Cikarang Bekasi 


Bisnis:  

1. 2000-2005 Owner Toko Nada, Cikarang - Bangkrut 

2. 2002-2005 Owner Toysmart (36 outlet)- Bangkrut

3. 2007-Now, Owner minimarket Idolmart, Idolaku & Babydol (148 Outlet)


Lain-lain: 

1. 2025-2028 Presidium HIMPUNI (Perhimpunan Organisasi Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia)

2. 2021-sekarang Ketua Umum IKA UNRI (Ikatan Keluarga Alumni Universitas Riau)  

3. 2016-Sekarang, Ketua Umum AMRI (Asosiasi Masyarakat Ritel Indonesia)

4. ⁠2022-sekarang Ketua Umum Ikatan Keluarga Kuantan Sengingi (IKKS) Jakarta 

5. Pendiri One Alumni Coffe (Wakaf Produktif) di kampus Universitas Riau, Pekanbaru 

6. Pendiri Kedai Kopi Cik Wan (wakaf produktif) di Jalan Arifin Ahmad, Pekanbaru 

7. Penulis buku “Jatuh Bangun” tahun 2019 dan buku “Bacalah” tahun 2022

8. Pembicara Seminar, Workshop dan Pelatihan bisnis di 100 kota lebih se-Indonesia

Post a Comment

0 Comments