Skip to main content

Sticky Advertisement

Menengok Unri Tempo Dulu: Ketika Jalan Masuk Kampus Hanya Satu


(Sumber: dok Ardiman Ma’as)


Universitas Riau (Unri) kini sudah berusia 63 tahun. Kalau menengok ke masa lalu, kampus kebanggaan masyarakat Riau ini dulu jauh berbeda. Di awal perkembangannya, area kampus biru masih penuh dengan semak belukar. Kenangan itu dibagikan oleh alumnus Unri, Ardiman Ma’as.

Dia menceritakan suasana kampus Unri dibantu sebuah gambar lama. Gambar itu diambil pada 1990an. Terlihat sisi kanan jalan Unri masih dipenuhi semak. Sementara di sisi kiri, sudah mulai tampak jalur jalan, tapi masih berupa tanah. Area sekitarnya masih ditumbuhi belukar.

Pada era itu, aktivitas perkuliahan di Kampus Bina Widya baru dua fakultas, yaitu Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta Fakultas Non Gelar Teknologi (FNGT). Hingga kini, FKIP tetap berdiri, sementara FNGT sudah tidak ada. Di sisi lain. mahasiswa dari fakultas lain masih kuliah di Kampus Pusat Gobah.

Karena pusat kampus berada di Gobah, tak mengherankan jika Rektorat Unri dan aktivitas kampus lainnya masih terpusat di Kampus Gobah. Maka saat peringatan hari penting (nasional) mahasiswa yang tinggal sekitar Panam, turun ke Kampus Gobah untuk mengikuti acara atau kegiatan. 

“Kegiatan turun ke Kampus Gobah ini sekalian kami manfaatkan untuk jalan-jalan guna lebih mengenal Kota Pekanbaru,” kenang Ardiman.

Dia juga mengakui, jika dilihat sekarang mungkin terkesan norak jika dibandingkan dengan suasana dan kondisi saat ini. Tapi itulah kenyataannya saat itu. Banyak mahasiswa FKIP berasal dari kampung dan belum familiar dengan kehidupan Kota Pekanbaru. Bahkan banyak juga di antaranya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kota.

Lantaran baru dua fakultas yang beroperasi di Bina Widya, fasilitas kampus pun masih sangat terbatas. Saat itu baru ada gedung Dekan FKIP beserta beberapa biro seperti administrasi dan kemahasiswaan. Sementara FNGT belum memiliki gedung sendiri dan masih memanfaatkan lokal mahasiswa. Dengan demikian, Kampus Bina Widya juga belum memiliki fasilitas yang dapat menunjang aktivitas mahasiswa.

“Jika dilihat lebih dekat, beginilah gambar sepintas Kampus Bina Widya dari sisi jalan,” katanya sambil mengirim sebuah gambar.




(Sumber: dok Ardiman Ma’as)


Dari gambar itu, yang terlihat adalah gedung perkuliahan perkuliahan mahasiswa FKIP, terutama untuk jurusan sosial dan bahasa seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PPKn, Pendidikan Dunia Usaha, dan Pendidikan Luar Sekolah. 


Sementara jurusan MIPA, yang masih terdiri dari Biologi dan Matematika berada lebih ke arah kanan. Gedung perkuliahan FNGT diperkirakan berada di sisi kiri dari sudut pandang foto tersebut.


Meski fasilitas masih minim, kampus sudah mulai gencar melakukan pembangunan gedung perkuliahan beberapa fakultas, gedung rektorat gedung perpustakaan dan beberapa fasilitas kampus lainnya. 


Bahkan, sekitar tahun 1993, Gedung Perpustakaan sudah mulai dibuka untuk layanan peminjaman buku.


“Sementara area sekitarnya? Masih hutan dan semak belukar,” katanya sambil berkelakar. 


Dia bercerita, alumni angkatan 2000-an mungkin sudah tidak lagi mengenali wajah awal Kampus Bina Widya. Dulu di Unri hanya ada satu jalan utama sebagai akses masuk ke kampus. Jalannya memang sudah beraspal, tapi sempit sehingga tidak cukup untuk dua bus ukuran sedang berpapasan. Salah satunya harus mengalah turun ke bahu jalan.


Waktu itu, cukup banyak mahasiswa yang berjalan kaki dari kos di sekitar Panam menuju kampus dengan jarak sekitar 1 kilometer dari gerbang di jalan raya Pekanbaru–Bangkinang.


“Kami lebih nyaman berjalan di bahu jalan yang berupa tanah berkerikil agar aman dan tidak tersenggol bus kampus yang terkadang sedikit ugal-ugalan,” kata dia.


Sebenarnya ada bus kampus yang bisa ditumpangi, tapi di pagi hari sering sudah penuh terutama oleh mahasiswa yang tinggal di sekitar Gobah.


Cerita lain yang tak kalah membekas adalah saat musim hujan. Bagian tengah jalan menuju kampus kerap tergenang air. Kalau sudah begitu, mahasiswa terpaksa melipat celana panjang mereka agar tidak basah.


Post a Comment

0 Comments